Minggu, 13 Desember 2015

Hukum - Hukum Salat Sunnah


Sesungguhnya amalan yang pertama kali akan diperhitungkan dari manusia pada hari kiamat dari amalan-amalan mereka adalah shalat. Kemudian Allah Ta’ala mengatakan pada malaikatnya dan Dia lebih Mengetahui segala sesuatu, “Lihatlah kalian pada shalat hamba-Ku, apakah sempurna ataukah memiliki kekurangan? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun, jika shalatnya terdapat beberapa kekurangan, maka lihatlah kalian apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah? Jika ia memiliki shalat sunnah, maka sempurnakanlah pahala bagi hamba-Ku dikarenakan shalat sunnah yang ia lakukan. Kemudian amalan-amalan lainnya hampir sama seperti itu.” (HR. Abu Dawud)



Hadits di atas menunjukkan keutamaan solat sunnah yang bertujuan untuk menutupi kekurangan solat wajib kita. Karena sebenarnya, mayoritas dari solat wajib kita (mohon maaf) tidak ada yang sempurna. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan dari 'Ammar bin Yassir “Sesungguhnya seseorang ketika selesai dari shalatnya hanya tercatat baginya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, separuh dari shalatnya.”(HR. Abu Daud dan Ahmad)

 Sebab Solat Tidak Sempurna
Tidak sempurnanya solat kita dapat disebabkan beberapa hal. Misalnya saja, yang paling pertama yaitu setelah kita bertakbir. Ketika kita sudah mengucapkan "Allahu Akbar" maka langsung timbul pikiran-pikiran yang lain. "Eh, tadi itu sudah selesai belum ya tugasnya?", "Habis ini enaknya ngapain ya?", "waduh, sendal di depan itu baru. Takut hilang jadinya," dsb. 

Kedua, yang dapat menyebabkan tidak sempurnanya solat kita yaitu bisa jadi gerakan kita belum sesuai dengan tuntunan Rosul. Padahal Rosul bersabda dalam suatu hadits "Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat (HR.Bukhari, Ad-Darimi)

Ketiga, terkait kurang senpurnanya kita dalam merapatkan dan meluruskan shof. “Luruskanlah shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan sholat.” (HR Ibnu Majah)

 Poin-poin Tata Cara Solat Sunnah
1. Adanya solat sunnah dapat "menambal" ketidaksempurnaan solat wajib kita. Saya pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku membawakan air wudhunya dan air untuk hajatnya. Maka beliau berkata kepadaku, “Mintalah kepadaku.” Maka aku berkata, “Aku hanya meminta agar aku bisa menjadi teman dekatmu di surga.” Beliau bertanya lagi, “Adakah permintaan yang lain?” Aku menjawab, “Tidak, itu saja.” Maka beliau menjawab, “Bantulah aku untuk mewujudkan keinginanmu dengan banyak melakukan sujud (memperbanyak shalat).” (HR. Muslim)

2. Solat sunnah lebih baik dikerjakan di rumah. "Sesungguhnya shalat seseorang yang paling utama adalah yang dikerjakan dirumahnya, kecuali shalat fardhu." (H.R. Imam Bukhari & Muslim)

"jadikanlah rumah kalian sebagai tempat shalat kalian, jangan jadikan ia sebagai kuburan" (HR.Bukhari, Muslim)

3. Saat Solat Sunnah dianjurkan meletakkan sutrah, yaitu pembatas. Hal ini dikarenakan kita solat sendirian. Berbeda halnya ketika kita solat berjamaah, dimana sutrahnya terletak di depan imam. Makanya ketika kita batal saat solat berjamaah tidak mengapa kita lewat di depan makmum yang lainnya. Dalam riwayat disebutkan Nabi pernah mendirikan solat dengan menggunakan sutrah berupa tiang, pohon dan dinding. sekiranya seorang yang melalui di hdapan orang yang sedang bersolat ini mengetahui apa jenis dosanya (lalu di hadapan orang solat) nescaya untuk berhenti menunggu empat puluh lebih baik dari lalu di hadapan orang solat ini, berkata perwai : aku tidak tahu samada Nabi menyebut EMPAT PULUH hari atau bulan atau tahun" ( Riwayat Al-Bukhari) Tujuan sutrah sendiri adalah agar orang lain dapat melintas di hadapannya dan hal ini tidak berlaku bagi anak kecil karena syariat hanya dibebankan kepada seorang yang telah akil baligh.

4. Bagi orang yang solat sunnah dianjurkan pindah tempat dari solat wajibnya. Apakah kalian kesulitan untuk maju atau mundur, atau geser ke kanan atau ke kiri ketika shalat.” Maksud beliau: “shalat sunah”. (HR. Abu Daud, Ibn Majah, Ibn Abi Syaibah, dan dishahihkan al-Albani) 

“Hendaknya tidak melakukan shalat sunah, sampai berpindah dari tempat yang digunakan untuk shalat wajib.” (HR. Ibnu Abi Syaibah) 

Adapun hikmah dari berpindahnya tempat solat kita yaitu agar nanti di akhirat bumi dapat bersaksi. Imam Al-Bukhari dan Al-Baghawi menyebutkan bahwa di antara hikmah mengapa kita berpindah tempat, antara lain disebutkan untuk memperbanyak tempat sujud atau ibadah. Karena tempat-tempat ibadah tersebut akan memberi kesaksian di hari akhir nanti sebagaimana firman Allah SWT
"Pada hari itu bumi menceritakan khabarnya" (QS. Al-Zalzalah: 4)
 
5. Rukun-rukun Solat Sunnah Sama dengan Solat Wajib. Letak perbedaannya hanya terletak pada hukumnya, yaitu wajib dan sunnah.

6. Setelah Solat Sunnah Dzikir yang dianjurkan hanya sampai Allohumma antas salam, wa minkas salam. . .dst. 
Astaghfirullah (3x). Allahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikrom.
“Aku minta ampun kepada Allah,” (3x). Lantas membaca: “Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dariMu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.” (HR. Muslim)

Pertanyaan
1. Bagaimana kalau jarak rumah dengan masjid jauh?

Jawab :
Memang di zaman Rasul itu rumah Beliau dekat sekali dengan masjid. Begitu juga dengan para sahabat Beliau. Maka, bagi kita saat ini kerjakan semampu kita. Jika memang mampu solat sunnah (rawatib) di rumah dan masih sempat datang ke masjid sebelum iqomah, maka lakukanlah. Tetapi jika tidak bisa lakukan semampu kita. Adapun kalau memang ingin mendirikan solat rawatib (Qobliyah) di rumah dapat disiasati dengan langsung mendirikan solat begitu adzan berkumandang (tidak perlu menunggu selesai). Karena begitu masuk waktu solat itu sudah boleh untuk melaksakan solat sunnah.

Penutup
Ada sebagian ulama yang menyatakan bahwasanya terdapat perbedaan antara zaman kita sekarang dengan zaman Rosulullah SAW. Boleh jadi, ketika zaman kita akan mebih khusyuk melaksanakan solat sunnahnya di masjid. Hal ini dikarenakan banyaknya godaan ketika sampai di rumah , dalam artian menunda solat sunnah ba'diyah sampai tiba di rumah. Bisa karena pekerjaan yang belum selesai, terciumn harumnya masakan istri, dsb. Oleh karena itu, ulama ada yang berpendapat jika memang kita lebih khusyuk dengan melaksanakan solat di masjid maka lakukanlah di sana. Sedangkan apabila memang kita merasa mampu untuk dapat mengesampingkan hal-hal lain ketika tiba di rumah (merasa sama-sama khusyuk baik di masjid atau di rumah) maka kerjakanlah solat itu di rumah.

Sumber Inti : Kajian rutin malam minggu di Masjid Hajjah Nuriah Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Temanya gonta - ganti tiap minggu karena memang penceramahnya juga begitu. Tentu saja tidak sama persis. Ada yang kurang dan ada juga lebihannya. Oleh karena itu saya minta maaf, semoga kita dapat mengamalkan tulisan di atas dan selalu diberi petunjuk oleh-Nya. aamiin

Sumber penunjang (tidak semua tertulis) :

https://rumaysho.com/1997-dzikir-setelah-shalat.html#_ftn1
http://www.eramuslim.com/shalat/geser-posisi-shalat-sunnah.htm#.Vm1FP17XnfY
https://konsultasisyariah.com/14936-bergeser-dari-tempat-shalat-wajib-untuk-shalat-sunah.html# 
  

0 komentar:

Posting Komentar