Selasa, 19 November 2013

Keihklasan Seorang Suami



Surabaya, 15 Nopember 2013


            Tersebutlah sepasang suami istri. Mereka sudah menikah selama empat tahun, namun belum juga dikaruniai anak. Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke dokter memeriksakan diri. Setelah diperiksa, ternyata Sang Istri mengalami kemandulan. Sang Suami yang mengetahui hal itu pun meminta kepada dokter yang memeriksa agar tidak memberitau istrinya dan mengatakan bahwa dirinyalah yang mandul. Sang Dokter pun mengatakan apa yang diminta oleh Suami, yaitu mengatakan bahwa yang mandul adalah dirinya
.
            Empat tahun berlalu dan mereka belum juga dikaruniai anak. Sang istri mulai berubah dan menyalahkan suami yang mandul. Para tetangga pun mulai bicara yang tidak mengenakkan. Hal ini terus berlalu dan kerahasiaan bahwa yang mandul adalah Sang Istri tetap terjaga.
            Sampai suatu ketika, Sang Istri terkena penyakit gagal ginjal dan harus dilakukan operasi. Mendekati hari H, tepatnya 2 hari sebelum operasi dilaksanakan Sang Suami berkata pada Istrinya bahwa dia tidak bisa menemaninya untuk operasi dan dia akan mencarikan orang yang mau mendonorkan ginjalnya. Mendengar bahwa Sang Suami tidak dapat menemaninya pada hari H operasi, Sang Istri kesal kepada Sang Suami. Tanpa sepengetahuannya, dia mendonorkan ginjalnya untuk Sang Istri.
            Waktu kembali berlalu dan saat itu mereka sudah dikaruniai anak dan mereka diliputi kebahagiaan. Karir Sang Suami juga meningkat. Rasa syukur mereka rasakan. Suatu saat, Sang Suami harus pergi dinas ke luar negeri untuk menggantikan pimpinannya yang berhalangan hadir. Tetapi dia lupa membawa buku diarinya. Ternyata , Sang Istri melihat dan membaca buku diari Sang Suami. Dan betapa terkejutnya ia tentang kenyataan yang disembunyikan suaminya dahulu ketika memeriksakan diri ke dokter dan operasi ginjal yang dilakukannya. Mengetahui kenyataan tersebut, Sang Istri menjadi malu kepada suami. Mengapa dia begitu tega terhadap suaminya, padahal suaminya selama ini begitu sayang dengan dirinya. Sampai akhirnya Sang Suami pulang. Sang Istri tidak dapat mengangkat kepalanya dan teramat malu untuk menatap Sang Suami. Dia bercerita bahwa dia telah mengetahui yang sebenarnya dan meminta maaf kepada Sang Suami. Dengan senyum tulusnya Sang Suami mengatakan bahwa janganlah hal itu diingat lagi. Dia ikhlas dan yang terpenting istrinya telah selamat dan saat ini telah dikarunia anak.
            Dari cerita tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa dalam melakukan sesuatu haruslah dilakukan dengan ikhlas dan janganlah kita berprasangka buruk kpeada orang lain. Boleh jadi, apa yang kita sangka baik itu ternyata adalah buruk dan apa yang kita sangka baik itu adalah buruk. Seperti dalam firman Allah SWT “....boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (Q.S Al Baqarah : 216) 
Taujih Mas Fani, 14 November 2013

0 komentar:

Posting Komentar