Senin, 28 Maret 2016

Tashrif Istilahiy Fi’il Amr dan Fi’il Nahiy



1.    Fi’il amr
Cara untuk membuat fi’il amr yaitu dengan melihat fi’il mudhari’-nya. Huruf  Ya (ي) diganti  dengan hamzah dan lam fi’ilnya disukunkan. Sedangkan untuk harakat hamzahnya disesuaikain dengan harakat ‘ain fi’ilnya. Misalnya Yaf’ulu (يفعل  (menjadi uf’ul ( أفعل ( dan Yaf’ilu يفعل) ) menjadi if’il (اِفعل.(.

Minggu, 20 Maret 2016

Isim Fa’il, Maf’ul dan Mashdar



Pada pelajaran sebelumnya, telah kita ketahui bahwa Tashrif Tsulatsy Mujarrad terdiri 6 bab yang mana rangkumannya kita gunakan singkatan untuk memudahkan kita dalam mengingatnya, yaitu “bAtU kAlI mAnA bIsA tUrUn sendIrI”.
Seperti halnya fi’il madhy dan mudhari’, untuk isim mashdar, fail dan maf’ul juga memiliki wazan. Tetapi khusus untuk mashdar sifatnya sama’iy, yakni berdasarkan apa yg kita dengar dari orang arab. Tidak ada rumus baku untuk mashdar, satu-satunya cara yaitu dengan menghafalnya. Pada akhir tulisan terdapat lampiran fi’il madhy dengan mashdarnya. Mashdar sendiri berarti kata kerja yang dibendakan.

Kamis, 17 Maret 2016

Wazan-Wazan Tashrif


Wazan tashrif atau rumus perubahan kata dalam Bahasa Arab ada 35 rumus. Seluruh fi’il yang ada pasti mengikuti salah satu dari 35 wazan ini. Alhamdulillah, dari 35 wazan ini yang umum digunakan hanya 22 wazan. Kemudian, dari 22 ini terbagi lagi menjadi 2 kelompok besar yaitu Tashrif Tsulatsy dan Tashrif Ruba’iy (Secara umum tashrif yang umum digunakan dibagi menjadi dua tashrif ini).

Selasa, 15 Maret 2016

Tashrif Fi’il Madhy dan Mudhari’ Tsulatsy Mujarrad



Seperti dijelaskan pada pelajaran sebelumnya, fi’il yang masuk dalam kelompok tsulatsy mujarrad adalah kelompok kata yang tersusun dari 3 huruf. Contoh : جَلَسَ dan كَتَبَ
Tsulatsy mujarrad terdiri dari 6 bab. Di setiap bab terdapat rumus yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Seluruh fi’il yang tersusun dari 3 huruf pasti akan mengikuti salah satu dari wazan atau bab ini. Sebelum mempelajari itu kita harus mengetahui terlebih dahulu wazan fi’il madhy dan fi’il mudhari’. Hal ini dikarenakan rumus tiap bab itu tergantung dari wazan kedua fi’il ini.